Saturday, January 12, 2013

#11 : Malam Minggu Yang Dicari




Ada yang lagi saya tunggu-tunggu belakangan ini. Yang biasanya jarang buka-buka youtube, sekarang jadi agenda wajib. Apa kira-kira gerangan? 

Malam Minggu Miko (3M), satu lagi buah karya dari Raditya Dika. Awalnya sih karena nggak sengaja, nonton bareng sama temen. Eh jadi suka deh dari situ. Mulai cari-cari info dan nungguin episode-episodenya di sini. Sebenernya, tokoh sentralnya ada dua, Miko dan Rian. Tapi, kekonyolan keseharian mereka semakin meriah dengan kehadiran asisten rumah tangga, Mas Anca.

Walaupun saya nonton serial ini nggak melulu saat malam minggu, tapi kehadirannya menyajikan sensasi malam minggu ke penonton setianya, begitu sih yang saya rasain. Malam minggu kan nggak melulu dikonotasikan dengan malamnya bareng pacar, kalau menurut saya, malam dimana orang mencari suatu kegiatan untuk merayakan libur setelah seminggu penuh dengan aktifitas. Karena cuma malam minggu, yang paginya masih bisa leha-leha alias masih libur. Itu menurut saya, menurut orang lain pasti beda-beda.

Nah, begitu pun yang digambarkan sama 3M. Dari judulnya yang selalu menyelipkan nama-nama wanita, bisa langsung tergambarkan apa yang mau diceritakan dalam 3M. Contohnya episode Kado Untuk Melina, episode ini salah satu episode kesukaan saya. Di episode ini menceritakan gebetan baru Miko (yang tiap episode berbeda-beda) yang akan kembali ke tanah air setelah menempuh pendidikannya di Australia. 

Lalu Miko sibuk membuat hadiah buatannya untuk menyambut kedatangan Melina. Ternyata, hasil yang dibuat Miko dinilai gagal oleh Rian. Akhirnya Miko memutuskan untuk mencari sebuah dress dengan saran dari Rian. Karena Miko takut gagal dalam masalah ukuran dan merasa ukuran Rian sama dengan Melina, diputuskan lah Rian untuk ikut sebagai juru coba! 

Dari situ aja udah bisa kebayang, gimana kelucuan mereka memilih dan mencoba dress. Dan setelah mengalami kejadian yang konyol saat di butik dan frustasi, karena tidak menemukan yang tepat, akhirnya dipilih boneka koala yang sedang memeluk bendera Australia. Lagi-lagi Miko melakukan kesalahan yang konyol, ternyata bukan Australia lah yang dimaksud, melainkan Austria. Hahaha.

Cukup sekilas ceritanya. Kalian bisa menyaksikannya sendiri, biar merasakan kekonyolan mereka. Jadi, walaupun kita nggak bisa merasakan malam minggu, karena suatu hal atau merasa jenuh dengan keseharian kita sehingga mau merasakan sensasi malam minggu ditengah-tengah aktifitas, 3M bisa banget dijadiin solusi. Setidaknya menjadi teman untuk melepas kerut-kerut lelah dan kebosanan rutinitas.



Friday, January 11, 2013

#10 : peduli ( kah? ) !

Peduli. Sayang. Dua kata yang berbeda tapi memilki keterkaitan. Setuju? Seenggaknya menurut saya pribadi. Kalau sayang, pasti timbul kepedulian. Sebaliknya, jika seseorang peduli, secara sadar atau nggak dia memiliki rasa sayang. 

Beda orang, beda juga tipe kepeduliannya. Ada yang melalui ucapan, ada juga yang nggak banyak kata-kata langsung ditunjukkan. Sah-sah aja, namanya juga plural. Tapi ada juga yang menggunakan dua cara itu sebagai alat, untuk pencitraan dirinya sendiri atau bahkan untuk terlihat seperti.

Misalnya,banyak orang yang berbondong-bodong mengatakan peduli lingkungan sampai ikutan berbagai macam komunitas, tapi masih banyak pula yang mencemari lingkungan dengan macem-macem. Mungkin kalian akan bilang, "Ya, mungkin itu yang nggak sadar dan nggak tahu atau bahkan yang nggak ikut keanggotaan." Nyatanya nggak, saya pernah liat orang yang ikut komunitas  tapi masih suka mencemari lingkungannya. Lalu untuk apa dong? 

Belum lagi, orang-orang yang udah naik mobil-mobil mewah masih suka buka kaca jendela buat buang sampah. Kalau punya mobil mewah udah pasti berpendidikan tinggi kan? Lalu kemana pergi ilmunya, kalau hal kecil tapi berdampak besar ini aja nggak tau?? Sama aja dong dengan orang-orang yang nggak pernah mengecap bangku sekolah?!

Alangkah bagusnya kalau dimulai dari sendiri dulu. Anggap aja, lingkungan itu pacar kedua yang butuh diperhatiin dan dipeduliin, jangan cuma kasih rayuan gombal doang. Lama-lama kan bisa ngambek juga. Kalau udah ngambek, bisa berabe. Ujung-ujungnya, kita juga kan yang ribet. 

Kalau bukan kita, ya siapa lagi?

Wednesday, January 9, 2013

#9 : Angin

Pahon-pohon melambai-lambai tarian
Daun-daun berguguran
Mangga berjatuhan
Bintang berlindung di balik awan
Tetap tersungkur dipojokkan
Menikmati kesendirian
Menelan harapan
Sang empat arah sedang beraduan
Bingung, memutuskan arah dan tujuan

Tuesday, January 8, 2013

#8 : Hai, Tuhan!

Tuhan memang sering kali bergurau. Dengan caranya sendiri, tentunya. Kadang dalam waktu sekejap atau pun jangka panjang diberikannya. Kadang juga butuh waktu untuk mengerti kadang kita langsung menyadarinya. Apapun itu, ya sebagai manusia berusaha untuk menikmatinya saja. 

Saya mau menceritakan lelucon Tuhan yang paling lucu yang pernah saya terima. Pasti tau kan majalah remaja cowok yang sudah beredar dari beberapa tahun silam? Ya, majalah Hai. Saya memang bukan salah satu pembaca Hai. Tetapi geliat Hai sudah saya rasakan dari mulai saya belajar membaca.

Gini deh, saya mau menceritakan dulu pengalaman saya dengan majalah Hai baru-baru ini. Tepatnya pada bulan Juli-September 2012. Kebetulan saya mendapatkan kesempatan untuk magang di majalah tersebut. Awalnya, hanya untuk mengisi waktu libur semester genap yang biasanya punya jangka waktu yang cukup lama. 

Ditahun-tahun sebelumnya, waktu liburan itu saya pakai untuk mengambil SP atau Semester Pendek. Nah, karena udah nggak ada lagi mata kuliah yang mau saya ambil semester kemaren, jadi saya mutar otak biar liburan di rumah nggak cuma bengong-bengong sambil makan doang. Singkat cerita, setelah wara-wiri di berbagai media, akhirnya saya menjatuhkan pilihan untuk serius mengejar magang di Kompas Gramedia Grup. 

Awalnya majalah Hai bukan menjadi tujuan utama saya. Ada tiga pilihan majalah sebelum Hai. Tapi akhirnya seneng juga ditempatin di majalah Hai, yang euforianya masih kental dengan gaya anak muda. Lalu apa dong kaitannya dengan perkataan saya yang di atas? Setelah beberapa saat magang, saya jadi teringat sesuatu.

Kalau dirunut ke belakang, tenyata kedua abang dan adik saya (yang semuanya cowok) itu merasakan masa-masa “Hai”. Dan selama ini saya nggak pernah merhatiin dengan seksama, apa lagi ikutan baca. Hingga saya magang di majalah Hai, saya mengingat momentum dari masa lalu dan akhirnya bergabung ke masa-masa “Hai” mereka. Walaupun telat.
 . 
Kejadian itu saat saya berlati membaca bersama Abang tertua.Tepatnya umur berapa, saya lupa. Kejadian tersebut sangat membekas diingatan saya.Karena apa? Abang saya mengajarkan membaca hanya dari satu kata daricover sebuah majalah dan satu kata itu terus ditanyakan ulang olehnya. Terkadang dia mengatakan pelahafalan saya salah dan mengharuskan saya untuk mengejanya. Padahal saaat itu saya sudah sangat yakin dengan pekerjaan saya dan akhirnya mengumpat sembal. Kata-kata apa yang ia ajarkan ke saya saat itu? Ya, kata Hai yang ada di cover majalahnya. Sangat lucu. Kata itu yang hingga sekarang saya sering liat dan menjadi bagiannya. Ingin sekali melihat reaksi Abang saya dengan kenyataan ini.

Jadi, saya percaya dan semakin percaya, kalau Tuhan senang memberikan lelucon yang saya ceritakan di atas tadi. Terkadang lelucon itu juga bisa menjadi “sign” hidup di masa depan kelak. Mungkin. Lelucon Tuhan siapa yang tahu?

Note: Abang saya itu sudah tenang di sana, mungkin dia sengaja waktu itu, menyuruh mengucapkan kata Hai berulang-ulang. Supaya saya ingat dengan Hai dan dengan dia. I love you more than you ever knew, Bang.

Monday, January 7, 2013

#7 : Aku dan aku



Aku meilhatnya ketika hendak mematikan laptop, sebuah foto. Ketika bersama keempat teman menghabiskan waktu bersama di Pulau Sempu, Malang. Foto dimana dua sisi terlihat. Seperti mata uang bercermin. Tidak ada maksud apa-apa saat itu. Setelah mengabadikan tingkah teman-teman, lalu aku melihat sisiku yang lain di jernihnya air sebuah Segara. Hanya ingin mengabadikannya, cukup. Lalu pulang dan menjalani kembali hari.

Cukup lama foto itu terpasang, dan tidak pernah benar-benar memerhatikan. Hingga malam ini aku menatapnya. Terbersit, ingatan. Aku selalu percaya, manusia punya sisi gelap. Sebaik apapun mereka. Melekat layaknya bayangan. Ikut kemana pun pergi, apa pun yang dipikirkan bahkan bagaimana pun perasaan. Tersadar, Tuhan sudah menjadikannya satu paket. 

Bayangan bagai sisi berlawanan yang selalu mengikutiku, tetapi terkadang aku tidak terlalu menyadarinya, tidak memperhatikannya. Tetapi juga terkadang aku mengamati gerakannya, bahkan melihat diriku darinya. Terkadang lebih detil. 

Ia bagaikan bunglon yang bertualang di rimba dunia. Tetapi tanpanya aku tidak ada. Mati. Seonggok bayangan tanpa nadi yang menghantui diri-diri lain, karena belum puas menghabisi diri. Beriringan tidak buruk, tinggal mencari nada yang tepat untuk menghasilkan sebuah harmoni.

#6 : bercerita


Apa pernah mulut bertanya kepada kata kenapa bisa bermakna?
Atau awan kepada laut menjadikannya hujan?





Saturday, January 5, 2013

#5 : mencari

tok tok tok...
diam
tok tok tok...
tetap diam
tok tok tok...
tidak ada jawaban
brak!!
mati lampu,
dia terkapar.


die Gaeste

free counters